Senin, 23 Januari 2012

Sandal Jepit Istriku

Bismillahirrahmaanirrahiim

Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh… betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop ini rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin nggak ketulungan. “Ummi… Ummi, kapan kau dapat memasak dengan benar…? Selalu saja, kalau tak keasinan…kemanisan, kalau tak keaseman… ya kepedesan!” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.”Sabar bi…, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul…? ” ucap isteriku kalem. “Iya… tapi abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini…!” Jawabku dengan nada tinggi. Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya sudah merebak.
***
Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan ‘baiti jannati’ di rumahku. Namun apa yang terjadi…? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal burak (pecah). Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta pora di dapur, dan cucian… ouw… berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan detergen tapi tak juga dicuci.

Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada. “Ummi…ummi, bagaimana abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini…?” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ummi… isteri sholihat itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah…?” Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. “Ah…wanita gampang sekali untuk menangis…,” batinku berkata dalam hati. “Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihat…? Isteri shalihat itu tidak cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai dipipinya. “Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja untuk jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. “Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.
***
Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?” pinta isteriku. “Aduh, Mi… abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?” ucapku. “Ya sudah, kalau abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab isteriku. “Lho, kok bilang gitu…?” selaku. “Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam bus dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,” ucap isteriku lagi. “Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,” jawabku ringan. Pertemuan hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai.

Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. “Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin sendiri. Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Dug! Hati ini menjadi luruh. “Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?” tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus. “Maafkan aku Maryam,” pinta hatiku. “Krek…,” suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar.

Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berbaya gelap dan berjilbab hitam melintas. “Ini dia mujahidahku!” pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri. Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku.

Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: “Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” Sedang aku..? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku…? terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terdzalim!!! “Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berbaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia. “Abi…!” bisiknya pelan dan girang. Sungguh, aku baru melihat isteriku segirang ini. “Ah, kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?” sesal hatiku.
***
Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. “Alhamdulillah, jazakallahu…,”ucapnya dengan suara tulus. Ah, Maryam, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud dan ‘iffah sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku…?

...> Dari byk sumber

Sabtu, 21 Januari 2012

 Me

 Di RSUD GUNUNG JATI KOTA CIREBON



 Baby Giant

Family

 Me n Mom

Happy Family
 Me

Kamis, 19 Januari 2012

Sosok Akhi berjiwa Islami

Subhanallah...
Ternyata dari dulu hingga sekarang dia tak pernah berubah,,,
Masih berjiwa muda, namun pikirannya seperti ustad yang sudah paham betul makna agama yang kita anut,,
Memang tak salah, dari dulu hingga sekarang aku mengaguminya,,
Andai ia tau aku mengaguminya sejak dulu,,

Aku merubah penampilanku juga berawal darinya, melihat ia sering share tentang wanita yang mennutup auratnya...
Belum sempat aku mengutarakan rasa terima kasihku padanya atas apa yang telah ia berikan kepadaku walau semuanya tanpa dia sadari,,
Namun ku malu karena diam-diam telah mengagumi sosoknya...

Ya Rabb.... Berikanlah hamba pendamping hidup seperti dirinya, seperti sosok ustad muda yang bisa membimbing hambamu ini ke jalanmu... jalan yang Engkau ridhai...

Kamis, 06 Oktober 2011

Sayangilah Ibumu

Pada suatu hari ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya ke hutan, walau rasa sayang kepada sang ibunda msh membara di hati,,
namun si ibu telah lumpuh dan mulai pikun. yg membuat si pemuda kesal, dengan membulatkan tekad .. Si pemuda tampak bergegas menyusuri hutan sambil menggendong ibunya tersebut. ,,,, pemuda berjalan sampai ke ujung hutan yg orang lain pun mungkin belum pernah memasuki nya,,,
dengan harapan sang ibu tak tahu jalan pulang,,
Si ibu yang kelihatan tidak berdaya berusaha menggapai setiap ranting pohon yang bisa diraihnya dan mematahkannya kemudian menaburkannya di sepanjang jalan yang mereka lalui.
Sesampainya di dalam hutan yang sangat lebat, si anak menurunkan ibu tersebut dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih karena ternyata dia juga tidak menyangka sanggup melakukan perbuatan ini.
Justru si ibu yang tampak tegar,
dalam senyumnya dia berkata “Anakku, aku sangat menyayangimu. Dari engkau kecil sampai dewasa aku selalu merawatmu dengan segenap cintaku. Bahkan sampai hari ini rasa sayangku tidak berkurang sedikit pun.
wahai anak ku,,,,!! Tadi aku sudah menandai sepanjang jalan yang kita lewati dengan ranting-ranting kayu. Aku takut engkau tersesat, ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai di rumah.”
Demi mendengar kata-kata tersebut, si anak menangis dengan sangat keras, kemudian langsung memeluk ibunya dan kembali menggendongnya untuk membawa si ibu pulang ke rumah. Pemuda tersebut akhirnya merawat ibu yang sangat mengasihinya tersebut sampai akhir hayatnya,,,,,,,,,’
Semoga kisah ini menjadi renungan buat saudara saudari ku sekalian,,

Oh My Darling "I Love You"

Oh my darling
Tujuh bulan sudah aku mengandung anakmu, aku sangat bahagia, karena Allah memberikan amanah bagi kita .meski malam demi malam dalam kontraksi panjang dan sakit pinggang.
Genggaman tanganmulah yang meyakinkanku bahwa kita mampu menjadi orangtua hebat untuk seorang bayi yang kuat. Saat aku tak mampu menahan laju air mataku, engkaulah yang dengan cinta menghapusnya perlahan.
Suamiku, aku sadar betapa lemahnya aku tanpamu. Disaat aku tak memiliki kekuatan untuk bertahan, aku selalu memohon pada-Nya untuk menghadirkan kekuatan baru melaluimu.
Dan…setelah hampir setahun mengarungi samudera hidup bersamamu, aku semakin yakin akan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Terimakasih untuk semua cinta yang kau hadirkan dalam hidupku. Sungguh aku tak pernah mencintai seseorang seperti aku mencintaimu sebelumnya.
Terimakasih untuk setiap kesabaran dan ketegaran yang kau hadirkan dalam rumah tangga kita. Meski aku tahu, kau pun laki-laki biasa yang
kadang dapat lelah mengemudikan bahtera kita.
Jangan pernah takut untuk berhenti sejenak dan mengumpulkan kekuatan baru, sayang. Karena aku akan selalu menemanimu, percayalah!
Terimakasih, karena kau telah menjadikan aku wanita yang seutuhnya.dan sebentar lagi kau menjadikan aku, ibu dari putra kita yang menggemaskan. Aku berjanji akan mendidik mereka untuk selalu taat pada Rabb kita. Kekuatan Tertinggi Cinta kita.
Jika aku harus memilih memiliki tubuh langsing seperti sebelum menikah atau berperut buncit karena mengandung anak kita. Maka aku akan memilih untuk mengandung, karena disaat itulah aku rasakan kekuatan untuk melindungi dan mencintai..
Jika aku harus memilih memiliki payudara indah seperti para model atau payudara yang membengkak karena air susu. Maka aku akan memilih payudara membengkak yang mampu memberi kehidupan. Karena disanalah aku belajar untuk berkorban dan memberi kehidupan.
Jika aku harus memilih untuk melahirkan sesar atau berjuang untuk melahirkan. Maka aku akan memilih untuk berjuang sekuat tenaga melahirkan anak kita. Karena menunggu kelahiran anak kita dari menit ke menit, yang begitu menyakitkan adalah seperti menunggu antrian menuju Jannah-Nya.
Sehingga ketika bayi kecil kita terlahir dengan Asma Allah, para malaikat pun tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit.Jika aku harus memilih hidup tanpa beban dan bebas seperti saat aku belum menikah atau hidup dengan segala keterbatasan bersamamu dan buah cinta kita. Maka aku akan memilih untuk selalu bersamamu.
Percayalah, aku tak pernah menyesali keputusan untuk menikah denganmu diusia dini, bahkan sebelum aku berhasil merampungkan pendidikanku (pesantren).
Aku tak pernah menyesal memilih seorang laki-laki sederhana untuk menjadi Qowwam dalam rumahtangga.
Karena laki- laki sederhana itu menghadirkan banyak cinta untukku.Tetaplah bersamaku mengarungi bahtera ini, karena akan begitu banyak ombak yang akan menghadang lajunya.
Tetaplah menggenggam tanganku dalam keyakinan berpasrah atas setiap ketentuan-Nya. Tetaplah mencintaiku dengan cinta yang tiada pernah ingkar…
Aku begitu bahagia menjadi istrimu…

Kamis, 29 September 2011

TRANSFUSI DARAH,HUBUNGAN ANTARA DONOR DAN RESIPIEN, DAN MENJUALBELIKAN DARAH MENURUT HUKUM ISLAM


 I. Transfusi Darah
      Transfusi darah (Blood Transfusi,bhs.Ingg),ialah memindahkan darah dari seseorang kepada orang lain untuk menyelamatkan jiwanya.Islam tidak melarang seorang muslim atau muslimah menyumbangkan daranya untuk tujuan kemanusiaan,bukan komersialisasi;baik darahnya itu disumbangkan secara langsung kepda orang yang masih memerlukan transfuse darah misalnya untuk anggota itu sendiri,maupun diserahkan kepada palang merah atau bank darah untuk disimpan sewaktu-waktu untukmenolong orang yang memerlukan.
     Menyelamatkan jiwa manusia,sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 32:
Artinya : Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seseorang manusia,maka seolah-olah ia memelihara kehidupan manusia semuanya.
     Menurut hasil penelitian di Amerika Serikat,bahwa AIDS ini bisa menular melalui transfusi darah,Suntikan narkotika dan sejenisnya,suntikan tato,dan free sex,dan terutama melalui homoseksual.
II.Hubungan antara Donor dan Resipien
      Faktor-faktor penyebab yang dapat menyebabkan kemahraman sydah ditentukan oleh Islam sebagaimana dalam Al Qur’an Surat An-Nisa ayat 23 ialah :
  1. Mahram : orang yang tidak boleh nikah karena adanya hubungan Nasab. Misalnya hub.antara anak dengan Ibunya atau saudaranya sekandung/sebapak/seibu dan sebagainya
  2. Mahram karena adanya hub.perkawinan.Misalnya hub.antara seorang dengan mertuanya atau anak tiri dan istrinya yang telah disetubuhi
  3. Mahram karena adanya hub.persusuan.Misalnya hub antara seorang dengan wanita yang pernah menyusuinya.
Maka jelaslah,bahwa transfusi darah tidak mengakibatkan hub.kemahraman antara donor dan resipien diijikan oleh agama (Hukum Islam).

BAYI TABUNG/INSEMINASI BUATAN MENURUT HUKUM ISLAM

Menurut Mentri Kesehatan Suwardjono Surjaningrat : Agar Masyarakat terutama dari kalangan agama memberikan tanggapan dan masukan kepada Proyek/Tim Pengembangan Bayi Tabung Indonesia.
Sebab sikap ikut-ikutn  itu dilarang oleh Islam, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al Isra ayat 36:
Artinya : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.

Hal ini terbukti dengan misalnya  timbulnya kasus bayi tabung di Amerika Serikat,dimana Ibu titipannya bernama Mary Beth Whitehead dimejahijaukan,karena tidak mau menyerahkan bayinya kepada keluarga Willam Stern sesuai dengan kontrak.

Ada berapa teknik Inseminasi buatan yang telah dikembangkan di dunia Kedokteran,antara lain :
a)      Fertilazation In Vitro (FIV) dengan cara mengambil sperma suami dan ovum istri kemudian diproses di Vitro (tabung),dan setelah terjadi pembuahan,lalu di transper ke rahim Ibu.
b)      Gamet Intra Felopian Tuba (GIFT) dengan cara mengambil sperma suami dan ovum istri,dan setelah di campur  terjadi pembuahan,maka segera ditanam di sauran telur (Tuba Pelupi) teknik kedua ini lebih alamiah dari pada teknik pertama,sebab sperma hanya bisa membuahi ovum di Tuba Pelupi setelah ejakulasi (Pancaran mani) melalui hubumgam seksual.
Dikalangan Islam dan di luar kalangan Islam,baik di tingkat nasional maupun di tingkat Internasional.
Misal : Majlis Tajrih Muhammadiyah dalam muktamannya tahun 1980 mengharamkan bayi tabung dengan donor sperma.Lembaga fiqh Islam OKI (Organisasi Konferensi Islam) mengadakan siding di Amman tahun 1986.Vatikan secara resmi tahun 1987 telah mengencam keras pembuahan,bayi tabung,Ibu titipan dan seleksi jenis kelamin anak,karena dipandang tidak bermoral dan bertentangan dengan harkat manusia.Kemudian  menurut Kartono Muhammad, ketuA IDI (Ikatan Dokter Indonesia) memberi informasi ,bayi tabung pertama Indonesia yang diharapkan lahir di Indonesia sendiri.



Hukum Bayi Tabung/Inseminasi buatan menurut hukum Islam
      Cara mengambil sperma suami,disuntikan kedalam vagina/uterus istri,maupun dengan cara pembuahan,dilakukan diluar rahim,kemudin buahnya (Vertilized Ovum) ditanam dirahim istri.
      Aswalo keadaan kondisi suami istri yang bersangkutan benar-benar melakukan cara insenminasi buatan untuk memperoleh anak.Hal ini sesuai dengan kaidah Hukum Fiqh Islam:
Artinya : Hajat (kebutuhan yang sangat penting itu) diperlukan seperti dalam keadaan terpaksa (emergency).padahal keadaan darurat/terpaksa itu memperbolehkan melakukan hal-hal terlarang.

Mafsadah Inseminasi buatan bayi tabung itu jauh lebih besar,antara lain sebagai berikut :
a)      Pencampuran Nasab
b)      Bertentangan dengan Sunnattullah atau hokum alam
c)      Inseminasi buatan
d)      Kehadiran anak hasil Inseminasi buatan bisa membuat timbul konflik didalam rumah tangga.
e)      Terselubung dan dirahasiakan
f)       Tanpa proses kasih sayang yang alamiah