Senin, 13 Juni 2011

Hati yang tak kunjung pasti


Akhi, dari dulu hingga saat ini, aku mencintaimu,,,
Entah, bagaimana merubah perasaan ini,,
Berawal dari gossip – gossip kedekatan kita yang tak tau itu berasal dari mana, tapi karena gossip – gossip itu lah justru aku mulai suka dengan akhi, tapi dulu aku pikir ini cuman perasaan anak kecil yang belum tau apa – apa atau banyak orang bilang itu cinta monyet,, (sampai saat ini aku belum tau gossip itu berasal dari mana)....
Aku gak tau mengapa begitu sulit melupakanmu,,
Sudah 6 tahun aku memendam perasaan ini kepadamu,,
Sudah ku coba jalani hubungan dengan lelaki lain, tapi hasilnya nol,,
Hati ini tetap saja tertuju padamu,,
Dari dulu, hingga saat ini aku mencintaimu karena agamamu, karna hanya kamu lah yang membuat semuanya indah, aku lebih memahami agama berkat dirimu, walau kau tak menyadari bahwa aku belajar agama darimu,,
Sungguh, aku tak bisa mengelak perubahan itu karena dirimu, karna hanya dirimu yang memotivasi diriku untuk lebuh dekat dengan tuhanku,,
Akhi, walau hati ini masih hampa dengan ketidak pastian bahwa apakah dirimu mencintai aku atau tidak,, 
Aku tetap bersyukur, aku pernah menyukai orang sepertimu,,
Dan aku percaya, bahwa kalau memang kita ditakdirkan berjodoh, mungkin kita akan menemukan jalannya,,,
Aku mencintaimu karena agamamu dan karna dirimulah aku lebih mengenal tuhanku,,,
^_^ 


















Senin, 13 Juni 2011

Selasa, 07 Juni 2011

What words do you live by?

Just Be Your life And Give Smile for All,,, :)

Ask me anything

Senin, 30 Mei 2011

Niat membantu, malah mendapatkan masalah besar

Entah mengapa niat ku yang baik ini menghasilkan sebuah masalah besar,,,
Aku tak mengahrapkan apapun dalam hal ini,,
Aku hanya membantu mengkoordinir agar kalian semua tidak bingung,,
Aku gak mau kalau aku di bilang pelit ilmu, karna tak menyampaikan semua ini,,
Tapi kenapa jadi seperti ini??
Aku hanya niat memfasilitasi kalian, tapi kalian malah membuat masalah yang sangat besar untukku,,
Aku tak minta sepeser pun uang untuk membantu kalian,,
Aku ikhlas membantu kalian, agar kalian juga mendapatkan ilmu yang sama,,
Tapi apa balasan kalian,,,
Sungguh aku tak menyangka,,
Bukan kata terima kasih yang ku dengar,,
Malah perkataan menjelek-jelekan kami yang kalian berikan terhadap atasan ini,,
Hingga semua berubah jadi masalah yang besar dan akibat dari semua ini aku pun terancam tak akan Melanjutkan cita-citaku lagi,,
Sungguh penyesalan yang ada dalam diriku saat ini,,,
Kalian menusukku dari belakang,,,
Semua ini membuat aku hilang semangat untuk melanjutkan hidup ini,,,
:'(
Ya Rabb,,
Bantu aku menyelesaikan masalah ini,,,  :'(
Hanya kepadamu lah hambamu ini meminta pertolongan Ya Rabb,,,




Senin, 30 Mei 2011
Teras Asrama
20.37 WIB

Rabu, 18 Mei 2011

Penantianku Terhadap yang Halal Untukku.


oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 04 Mei 2011 jam 11:26


♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…


Entah angin apa yang membuai hari ini, membuatku begitu berani mencoretkan sesuatu untuk dirimu yang tidak pernah aku kenali. Aku sebenarnya tidak pernah berniat untuk memperkenalkan diriku kepada siapapun. Apalagi mencurahkan sesuatu yang hanya aku khususkan buatmu sebelum tiba masanya. Kehadiran sseorang lelaki yang menuntut sesuatu yang kujaga rapi selama ini semata-mata buatmu, itulah hati dan cintaku, membuatku tersadar dari lenaku yang panjang.


Ibu telah mendidikku semenjak kecil agar menjaga maruah dan mahkota diriku karena Allah telah menetapkannya untukmu suatu hari nanti. Kata ibu, tanggungjawab ibu bapak terhadap anak perempuan ialah menjaga dan mendidiknya sehingga seorang lelaki mengambil-alih tanggungjawab itu dari mereka. Jadi, kau telah wujud dalam diriku sejak dulu. Sepanjang umurku ini, aku menutup pintu hatiku dari lelaki manapun karena aku tidak mau membelakangimu.


Aku menghalang diriku dari mengenali lelaki manapun karena aku tidak mau mengenal lelaki lain selainmu, apa lagi memahami mereka. Karena itulah aku sekuat ‘kodrat yang lemah ini’ membatasi pergaulanku dengan bukan mahramku. Aku lebih suka berada di rumah karena rumah itu tempat yang terbaik buat sorang perempuan. Aku sering merasa tidak selamat dari diperhatikan lelaki. Bukanlah aku bersangka buruk terhadap kaummu, tetapi lebih baik aku berwaspada karena contoh banyak di depan mata.


Aku palingkan wajahku dari lelaki yang asyik memperhatikan diriku atau coba merayuku. Aku sedaya mungkin melarikan pandanganku dari lelaki ajnabi (asing) karena Sayyidah Aisyah r.a pernah berpesan, “Sebaik-baik wanita ialah yang tidak memandang dan tidak dipandang oleh lelaki.” Aku tidak ingin dipandang cantik oleh lelaki. Biarlah aku hanya cantik di matamu. Apalah gunanya aku menjadi idaman banyak lelaki sedangkan aku hanya bisa menjadi milikmu seorang. Aku tidak merasa bangga menjadi rebutan lelaki bahkan aku merasa terhina diperlakukan sebegitu seolah-olah aku ini barang yang bisa dimiliki sesuka hati.


Aku juga tidak mau menjadi penyebab kejatuhan seorang lelaki yang dikecewakan lantaran terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak dapat aku berikan. Bagaimana akan kujawab di hadapan ALLAH kelak andai ditanya? Adakah itu sumbanganku kepada manusia selama hidup di muka bumi? Kalau aku tidak ingin kau memandang perempuan lain, aku dululah yang perlu menundukkan pandanganku. Aku harus memperbaiki dan menghias pribadiku karena itulah yang dituntut oleh Allah. Kalau aku ingin lelaki yang baik menjadi suamiku, aku juga perlu menjadi perempuan yang baik. Bukankah Allah telah menjanjikan perempuan yang baik itu untuk lelaki yang baik?


Tidak kunafikan sebagai remaja, aku memiliki perasaan untuk menyayangi dan disayangi. Namun setiap kali perasaan itu datang, setiap kali itulah aku mengingatkan diriku bahwa aku perlu menjaga perasaan itu karena ia semata-mata untukmu. Allah telah memuliakan seorang lelaki yang bakal menjadi suamiku untuk menerima hati dan perasaanku yang suci. Bukan hati yang menjadi labuhan lelaki lain. Engkau berhak mendapat kasih yang tulen.


Diriku yang memang lemah ini telah diuji oleh Allah saat seorang lelaki ingin berkenalan denganku. Aku dengan tegas menolak, berbagai macam dalil aku kemukakan, tetapi dia tetap tidak berputus asa. Aku merasa seolah-olah kehidupanku yang tenang ini telah dirampas dariku. Aku bertanya-tanya adakah aku berada di tebing kebinasaan ? Aku beristigfar memohon ampunan-Nya. Aku juga berdoa agar Pemilik Segala Rasa Cinta melindungi diriku dari kejahatan.


Kehadirannya membuatku banyak memikirkan tentang dirimu. Kau kurasakan seolah-olah wujud bersamaku. Di mana saja aku berada, akal sadarku membuat perhitungan denganmu. Aku tahu lelaki yang menggodaku itu bukan dirimu. Malah aku yakin pada gerak hatiku yang mengatakan lelaki itu bukan teman hidupku kelak.


Aku bukanlah seorang gadis yang cerewet dalam memilih pasangan hidup. Siapalah diriku untuk memilih permata sedangkan aku hanyalah sebutir pasir yang wujud di mana-mana.


Tetapi aku juga punya keinginan seperti wanita solehah yang lain, dilamar lelaki yang bakal dinobatkan sebagai ahli syurga, memimpinku ke arah tujuan yang satu.


Tidak perlu kau memiliki wajah setampan Nabi Yusuf Alaihisalam, juga harta seluas perbendaharaan Nabi Sulaiman Alaihisalam, atau kekuasaan seluas kerajaan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, yang mampu mendebarkan hati juataan gadis untuk membuat aku terpikat.


Andainya kaulah jodohku yang tertulis di Lauh Mahfuz, Allah pasti akan menanamkan rasa kasih dalam hatiku juga hatimu. Itu janji Allah. Akan tetapi, selagi kita tidak diikat dengan ikatan yang sah, selagi itu jangan dimubazirkan perasaan itu karena kita masih tidak mempunyai hak untuk begitu. Juga jangan melampaui batas yang telah Allah tetapkan. Aku takut perbuatan-perbuatan seperti itu akan memberi kesan yang tidak baik dalam kehidupan kita kelak.


Permintaanku tidak banyak. Cukuplah engkau menyerahkan seluruh dirimu pada mencari ridha Illahi. Aku akan merasa amat bernilai andai dapat menjadi tiang penyangga ataupun sandaran perjuanganmu. Bahkan aku amat bersyukur pada Illahi kiranya akulah yang ditakdirkan meniup semangat juangmu, mengulurkan tanganku untukmu berpaut sewaktu rebah atau tersungkur di medan yang dijanjikan Allah dengan kemenangan atau syahid itu. Akan kukeringkan darah dari lukamu dengan tanganku sendiri. Itu impianku.


Aku pasti berendam airmata darah, andainya engkau menyerahkan seluruh cintamu kepadaku. Cukuplah kau mencintai Allah dengan sepenuh hatimu karena dengan mencintai Allah, kau akan mencintaiku karena-Nya. Cinta itu lebih abadi daripada cinta biasa. Moga cinta itu juga yang akan mempertemukan kita kembali di syurga….


Wassalam…


Seorang gadis yang membiarkan dirinya dikerumuni, didekati, diakrabi oleh lelaki yang bukan muhrimnya…cukuplah dengan itu hilan harga dirinya…di hadapan Allah. Di hadapan Allah. Di hadapan Allah. PELIHARALAH DIRI DAN JAGA KESUCIAN.

Jangan sia-siakan waktumu ukhti...


oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 06 Mei 2011 jam 20:32


Assalamu'alaikum wr. wb.


"Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran” (Q.S Al-Ashr: 1-3)


Taujih ini bisa untuk semuanya, tapi khususnya untuk para akhwat, lebih khusus lagi bagi yang masih lajang Diambil dari berbagai sumber.Bagi akhwat yang masih lajang, mungkin banyak di antaranya yang sudah merindukan untuk menggenapkan setengah dien, tapi Allah masih belum mendatangkan jodohnya.Insya Allah hampir semuanya mengharapkan pasangan yang baik agamanya. Di antaranya ada yang menanti dengan sabar meskipun usia sudah menginjak kepala tiga. Ada yang tidak sabar menanti hingga akhirnya asal pilih aja, tidak menjadikan agama menjadi pertimbangan utamanya. Ada yang menantinya dengan santai aja, ntar kalo sudah waktunya ya datang sendiri . Ada pula yang hanya sekedar ingin, tapi tidak mempersiapkan menuju kesana. Tapi ada pula yang meskipun sudah siap dari segi usia, sudah punya maisyah tetapi belum punya keinginan menuju kesana.ukhti,Termasuk yang mana dirimu ukhti..? Bagaimanapun kondisimu ukhti…


jangan sia-siakan waktumu dalam masa penantian itu.


Jangan sia-siakan dengan angan-angan indah (karena belum tentu indah ) karena hal itu bisa membawamu pada zina hati. Jangan pula terlalu bersedih karena belum dapat jodoh juga. Ingatlah janji Allah dalam surat An Nuur:26,

“wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).”


Jika kita ingin mendapatkan pasangan yang sholeh maka jadikan diri kita sholeh juga. Masih ada waktu bukan?Jangan sia-siakan pula waktu, pikiran dan tenagamu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat apalagi maksiat. Kurangi hal-hal yang mubah seperti nonton TV, jalan-jalan, shopping, dll yang berlebihan.Trus harus ngapain donk???Buanyak atuh yang bisa kita kerjakan. Kembangkan ilmu dan potensi yang kita miliki, bisa dengan menyelesaikan kuliah (bagi yang belum lulus) atau melanjutkan kuliah lagi, atau ikut kursus-kursus. Dalam hal profesi kita bisa mencari pekerjaan yang sesui dengan bidang atau minat kita tapi dipertimbangkan juga, save ga diri kita sebagai akhwat bekerja disana? Syukur kalau kita bisa bekerja sekaligus berdakwah dan mengembangkan ilmu kita disana, sekali dayung beberapa pulau terlampaui. OK?Trus coba kita pikirkan tentang masalah-masalah ummat? Jangan trus sibuk kuliah atau kerja tidak mikirkan tentang masalah ummat.


Ingat sabda Rasulullah, barangsiapa ketika bangun tidak memikirkan umatku maka dia tidak termasuk dalam umatku. Masalah-masalah ummat itu ada banyak kalau kita mau BUMBATA di sekitar kita. Tidak hanya mencermati saja, tapi yang penting cari solusi. Coba kita tanya diri kita, kalau kita menyatakan bangga terhadap Islam, apa yang sudah kita perbuat untuk Islam? Kalau kita sudah berkomitmen terhadap dakwah, sudah maksimalkah yang kita lakukan selama ini?Ada banyak orang di sekitar kita yang belum berIslam dengan benar, ada banyak yang ingin belajar Islam, ada banyak yang butuh dibina, tetapi terkadang kita justru ‘membinasakan’nya dengan menelantarkan mereka.

Trus apalagi yang bisa kita kerjakan? Siapkan bekal sebanyak-banyaknya mulai sekarang untuk membangun rumah tangga yang Islami dan membangn masyarakat yang Islami pula. Mulai persiapan spiritual, persiapan konsepsional, persiapan fisik, persiapan material dan persiapan sosial.Kalau ingin tahu lebih lanjut, baca buku dech, kalau ada waktu lain kali Insya Allah saya tuliskan. Oh ya, jangan lupa, belajar masak.


Tuh kan… banyak sekali yang bisa dan bahkan ada yang harus kita lakukan. Katanya Ust. Hasan Al Banna, Sesungguhnya beban yang kita miliki lebih banyak dari waktu yang tersedia. Banyak yang bisa kita kerjakan, jangan ditunda-tunda, mumpung kita masih punya banyak waktu luang.


Mumpung belum disibukkan oleh urusan rumah tangga, mengurus suami dan anak, dsb. Seorang ibu bercerita, masa-masa gadisnya dulu adalah masa-masa keemasan dimana dia punya banyak waktu untuk beramal, mengembangkan diri dan berkontribusi untuk ummat dan dakwah. Tapi bukan berarti trus ketika sudah berkeluarga dia tidak lagi bisa berdakwah dan beraktifitas, justru bertambah kontribusinya karena ada yang mendukung.dan membantu. Asalkan bisa memenejemen waktu dengan baik dan mempertimbangkan fiqih prioritas, Insya Allah bisa seimbang.


Yuk, jangan hanya berdiam diri saja, jangan termasuk golongan muslim yang duduk. Terus berkarya dan bersabarlah. Insya Allah Allah maha tahu yang terbaik buat kita, siapa dan kapan waktunya. Dengan waktu yang kita miliki kita bisa mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik dan terus berkontribusi menuju kejayaan ummat.


..::Wallahu a’lam bishowab::..


Wassalamu'alaikum wr. wb.

Saudaraku…………


oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 07 Mei 2011 jam 13:32


♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Saudaraku………….

Nikah itu ibadah……. Nikah itu suci………..ingat itu……

Memang nikah itu bisa karena harta, bisa karena kecantikan, bisa karena keturunan, dan bisa karena

agama.

Jangan engkau jadikan harta, keturunan - maupun kecantikan sebagai alasan…………

karena semua itu akan menyebabkan celaka. Jadikan agama sebagai alasan……..

Engkau akan mendapatkan kebahagiaan.





Saudaraku……….

Tidak dipungkiri . bahwa keluarga terbentuk karena cinta……..

Namun…… jika cinta engkau jadikan sebgai landasan, maka keluargamu akan rapuh, akan mudah hancur.

Jadikanlah ” ALLAH ” sebagai landasan……

Niscaya engkau akan selamat Tidak saja dunia, tapi juga akherat…….

Jadikanlah ridho Allah sebagai tujuan……

Niscaya Mawaddah (kasih), Sakinah (ketentraman) dan Rahmah (sayang) akan tercapai.





Saudaraku………..

Lihatlah manusia ter-agung Muhammad saw….

tidak marah ketika harus tidur di depan pintu, beralaskan sorban, karena sang istri tercinta tidak mendengar kedatangannya.

Tetap tersenyum meski tidak mendapatkan makanan tersaji dihadapannya ketika lapar…….,

Menjahit bajunya yang robek……..





Saudaraku…………

Jangan engkau terlalu cinta kepada istrimu………

Jangan engkau terlalu menuruti istrimu……

Jika itu engaku lakukan akan celaka….

Engkau tidak akan dapat melihat yang hitam & yang putih, tidak akan dapat melihat yang benar & yang salah…..

Lihatlah bagaimana Allah menegur ” Nabi “-mu tatakala mengharamkan apa yang Allah halalkan, hanya karena menuruti kemauan sang istri.

Tegaslah terhadap istrimu……………..

Dengan cintamu, ajaklah dia taat kepada Allah…….

Jangan biarkan dia dengan kehendaknya……..

Lihatlah bagaimana istri Nuh dan Luth………..

Di bawah bimbingan manussia pilihan, justru mereka menjadi penentang…..

Istrimu bisa menjadi musuhmu………..

Didiklah istrimu…….. Jadikanlah dia sebagai Hajar, wanita utama - yang loyal terhadap tugas dakwah suami, Ibrahim. Jadikan dia sebagai Maryam, wanita utama - yang bisa menjaga kehormatannya……

Jadikan dia sebagai Khadijah, wanita utama yang bisa mendampingi sang suami Muhammad saw menerima tugas risalah…..

Istrimu adalah tanggung jawabmu….

Jangan kau larang mereka taat kepada Allah…..

Biarkan mereka menjadi wanita shalilah….

Biarkan mereka menjadi hajar atau Maryam……..

Jangan kau belenggu mereka dengan egomu…





Saudaraku…….

Jika engkau menjadi istri………

Jangan engkau paksa suamimu menurutimu……

Jangan engkau paksa suamimu melanggar Allah ….

siapkan dirimu untuk menjadi Hajar, yang setia terhadap tugas suami…..

Siapkan dirimu untuk menjadi Maryam, yang bisa menjaga kehormatannya….

Siapkan dirimu untuk menjadi Khadijah, yang bisa mendampingi suami menjalankan misi.

Jangan kau usik suamimu dengan rengekanmu….

Jangan kau usik suamimu dengan tangismu….

Jika itu kau lakukan…..

Kecintaannya terhadapmu akan memaksanya menjadi pendurhaka………..,jangan……….





Saudaraku……..

Jika engaku menjadi Bapak……

Jadilah bapak yang bijak seperti Lukmanul Hakim

Jadilah bapak yang tegas seperti Ibrahim

Jadilah bapak yang kasih seperti Muhammad saw

Ajaklah anak-anakmu mengenal Allah……….

Ajaklah mereka taat kepada Allah…….

Jadikan dia sebagai Yusuf yang berbakti…….

Jadikan dia sebagai Ismail yang taat…….

Jangan engkau jadikan mereka sebagai Kan’an yg durhaka.

Mohonlah kepada Allah……….

Mintalah kepada Allah, agar mereka menjadi anak yang shalih…..

Anak yang bisa membawa kebahagiaan.





Saudaraku……..

Jika engkau menjadi ibu….

Jadilah engaku ibu yang bijak, ibu yang teduh….

Bimbinglah anak-anakmu dengan air susumu….

Jadikanlah mereka mujahid………

Jadikanlah mereka tentara-tentara Allah…..

Jangan biarkan mereka bermanja-manja…..

Jangan biarkan mereka bermalas-malas……….

Siapkan mereka untuk menjadi hamba yang shalih….

Hamba yang siap menegakkan Risalah Islam. ( Amiin )

==Cintai Alloh, Cintai Orang tua==


oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 09 Mei 2011 jam 8:19

Suatu ketika saya menjenguk salah seorang alumni ESQ yang sedang sakit dan masuk ruang ICU di Bandung, Jawa Barat. Dalam perjalanan pulang, saya duduk di depan, samping sopir. Saya lalu mengajak bicara sang sopir, agar ia tidak mengantuk.

Pembicaraan saya awali dengan menanyakan usia, berapa lama bekerja, berapa putranya, dan tinggal di mana. Saat itu obrolan ringan pun terjadi antara saya dan pak sopir. Sekian menit pembicaraan kami kian hangat, di Kilometer 57 dari Bandung arah Jakarta saya bertanya pada pak sopir, “Pak apa yang Bapak inginkan dalam hidup saat ini?” tanya saya.

“Saya ingin kaya pak, supaya saya bisa senang,” jawab sopir tersebut.

Saat itu saya aminkan, sambil saya katakan, “Wah bagus tuh pak, cita-cita Bapak mulia sekali. Kalau Bapak kaya bapak bisa ibadah haji ya pak, bisa mensejahterakan keluarga,” ucap saya. Mendengar ucapan saya, pak sopir menimpali dengan ucapan, "Iya pak."

Kemudian saya kembali bertanya, “Untuk meraih itu Bapak punya caranya tidak pak?”

Sopir: “Nah itu dia pak saya bingung, saya terkadang cuma bisa berkhayal tentang itu semua,” jawabnya dengan nada sedikit putus asa.

Saya katakan kalau saya punya resepnya, “Bapak mau tidak?”

Dengan semangat sang sopir mengatakan, “Oh, mau sekali pak.”

Saya jawab, “Oke, saya akan berikan resepnya pak, ada dua hal, yang pertama cintai Allah dan yang kedua cintai kedua orangtua.”

Sang sopir bertanya, “Kenapa harus cinta sama Allah?”

Jawab saya, “Pak, yang punya langit dan bumi siapa? Yang punya matahari siapa? Yang punya mata kita, hidung kita, telinga kita, tubuh kita, Yang Maha memiliki rezeki siapa? Allah pak. Berarti Allah cinta dan sayang tidak sama kita? Kalau begitu hal yang utama saat kita berdoa pada Allah apa yang kita minta?”

Mendengar jawaban saya, sopir itu termenung. Kemudian ia menjawab, “Ndak tau pak!”

Mendapat jawaban yang bimbang dari si sopir, saya kembali memberi perumpamaan. “Pak, ketika Bapak mencintai seseorang sehingga orang itu cinta pada Bapak, apa yang dia minta Bapak akan kasih atau tidak?”

“Pastilah pak, karena saya cinta,” jawab sopir itu.

Kemudian pertanyaan kembali saya lanjutkan, “Berarti supaya yang punya rezeki mau kasih rezekiNya ke Bapak, apa yang harus Bapak lakukan?”

Dengan nada dan mata berkaca-kaca sopir itu menjawab, “Pak, berarti saya harus mencintaiNya hingga Ia cinta pada saya.”

“Bapak benar,” seloroh saya. “Kalau Bapak mencintai seseorang, apapun yang ia minta pasti akan Bapak kasih. Pak, sekarang jika Allah mencintai Bapak, maka apa yang ada dalam pikiran kita pasti Dia beri pak.”

Sopir: “Astaghfirullah, selama ini saya tidak paham dengan ini pak. Saya hanya datang pada Allah dan minta ini, minta itu padahal saya tak mencintainya. Astagfirullah, saya paham mengapa saya sulit mendapat rezeki.”

Di sela renungan itu kembali saya katakan, “Pak, jika kita cinta Allah maka apapun perintah Allah akan dilakukan sesibuk apapun dan semua pekerjaan akan diniatkan sebagai dzikir tasbihnya pada Allah.”

Mendengar itu, sang sopir menangis sambil berucap, “Astagfirullah maafkan aku ya Allah.”

Sambil menyeka air matanya, ia kembali bertanya, “Pak kenapa orangtua harus dicintai?”

Saat itu saya balik bertanya padanya, “Dulu Bapak lahir dari batu, pohon, tanah, api, atau dari air?”

Sambil tersenyum, sopir menjawab, “Pasti bukanlah pak, saya lahir dari ibu saya.”

Kemudian saya jawab, “Oke, bapak tahu tidak bagaimana susahnya mengurus dan membesarkan kita, penuh pengorbanan yang tak ternilai harganya, tidak ada keluh kesah, karena ibu dan ayah kita sayang serta cinta sama kita. Salah tidak, jika kita mencintai orang yang mencintai kita?”

Sambil termenung dan tiba-tiba desah napas kesadaran terdengar menyeruak di telinga saya, “Duh gusti, hapunten abdi joledar ka sepuh abdi... (Ya Allah maafkan aku tidak peduli pada orangtuaku).”

Kembali kami melanjutkan pembicaraan, dan saya kembali bertanya, “Pak, selama ini Bapak lebih mencintai orangtua atau sebatang rokok? Jika Bapak mencintai orangtua, seberapa sering mengingat dan mendoakan orangtua? Jangan-jangan kita lebih mencintai sebatang rokok daripada orangtua. Sebatang rokok kita ingat setiap saat, tapi orangtua kita hanya diingat saat kita susah.”

Kembali terdengar ucapan istighfar dari sopir tersebut.

Kemudian saya lanjutkan, “Pak, kalau Bapak mau kaya bukan menyembah gunung, batu, dan pohon. Tapi sembahlah Allah dan keramat yang harus didatangi adalah orangtua. Allah berfirman, ridha Allah tergantung ridha orangtua, murka Allah tergantung murka orangtua.”



by: Asep Nurhidayat, trainer ESQ Leadership Center